Friday, July 24, 2009

Manga Pluto: Ironi Berbalut Imajinasi

Sejak beberapa bulan yang lalu, saya membaca manga Pluto karya Naoki Urasawa. Manga ini merupakan remake dari Tetsuwan Atom: The Greatest Robot on Earth karya Tezuka Osamu. Tentu saja hal pertama yang menarik perhatian saya adalah kedua nama besar tersebut. Tapi ada hal menarik lainnya yang saya temukan di dalam manga ini—ironi berbalut imajinasi.

Sinopsis
Pluto adalah manga psikologis fiksi-ilmiah. Ceritanya cukup berat dan keras dengan sasaran pembaca dewasa (remaja akhir juga bisa). Latarnya adalah masa depan ketika teknologi robot sangat canggih sehingga ada robot yang menyerupai manusia. Tokoh utamanya adalah seorang detektif robot buatan Jerman bernama Gesicht yang bekerja untuk Europol. Cerita dimulai dengan terjadinya serangkaian pembunuhan misterius. Orang-orang yang terbunuh ternyata berkaitan dengan Tim Investigasi Bora yang dikirim ke Persia beberapa tahun sebelumnya.




Dalam manga ini, ada sebuah negara bernama Thracia. Negara ini disebut sebagai negara yang menganggap dirinya sebagai pemimpin dunia. Presiden Thracia mendesak PBB untuk menyetujui pelarangan pembuatan robot pemusnah massal. Setelah disetujui, Thracia menuduh Persia membuat dan menyembunyikan robot semacam itu. Maka dikirimlah Tim Investigasi Bora ke sana. Tim ini terdiri dari beberapa profesor pembuat robot dan 6 robot terkuat, termasuk Gesicht (ada satu robot lagi, tapi dia tidak ikut karena antikekerasan).

foto: kaskus.co.id


Pada waktu itu, Persia merupakan negara dengan teknologi robot yang maju. Mereka mampu membuat robot berkualitas dalam jumlah besar dengan cepat. Dengan kata lain, Persia berpotensi menjadi penguasa dunia. Hal inilah yang membuat Thracia khawatir. Sebelum investigasi berakhir, PBB meluluhlantakkan Persia. Rakyat sipil yang menjadi korban tak terhitung banyaknya. Kepiluan itu diteriakkan oleh gurun-gurun yang terlahir sesudahnya. Pada akhirnya, tidak ditemukan robot pemusnah massal di Persia. Persia hanya dipaksa untuk membangun ulang negaranya ke arah “demokrasi” yang diinginkan oleh Thracia.

Kebencian bergandengan dengan dendam. Satu demi satu mantan anggota Tim Investigasi Bora dibunuh oleh angin topan misterius. Pembunuhnya meninggalkan tanda berupa tanduk seperti Dewa Pluto dalam mitologi Yunani.

Istilah robot terkuat diberikan pada 7 robot khusus yang dapat menghancurkan ribuan robot lainnya dalam perang. Robot-robot ini juga dibunuh satu per satu (ya, “dibunuh”, bukan “dihancurkan”, karena ada undang-undang pelindung hak asasi robot yang mempunyai A.I. alias artificial intelligence). Siapa yang mampu melakukannya?


Spoiler Warning!!!
(Bagi yang ingin membaca dulu komiknya, silakan berhenti di sini. Yang lain, lanjut…)


Penyelidikan Gesicht berujung pada robot canggih bernama Sahad. Robot ini termasuk robot canggih yang menyerupai manusia, mempunyai emosi, dan mampu belajar. Pembuat Sahad adalah Menteri Iptek bernama Prof. Abra (konon dia adalah manusia yang sebagian besar tubuhnya diganti dengan mesin, tapi robot-robot canggih bingung mengidentifikasinya sebagai robot atau manusia). Sahad kuliah di Belanda untuk mempelajari teknologi botani demi memperbaiki kondisi alam di Persia. Namun, Prof. Abra yang kehilangan keluarganya dalam perang menggunakan Sahad untuk membalas dendam. Bahkan, dia juga menciptakan robot terkuat yang dapat mengatur cuaca, kemudian meledakkan Bumi (bukan luluh lantak tak berbekas, melainkan hancur hingga tersisa 10% saja).

Di balik semua kekacauan ini, Presiden Thracia tertawa. Semua peran tadi merupakan boneka-boneka yang dikendalikannya dari jauh—demi ambisinya menjadi penguasa dunia. Sebenarnya, Presiden Thracia didampingi robot yang sangat besar dan sangat jahat. Ketika Bumi hampir meledak, Presiden Thracia panik dan mengadu pada robot ini. Ternyata justru robot ini yang memperbudak Presiden Thracia. Robot ini menginginkan dunia tempat robot berkuasa. “Akan ada 10% manusia yang bertahan hidup. Kuserahkan mereka padamu. Tapi kamu jadi budakku selamanya,” kata robot ini pada Presiden Thracia.

Kalau kita berpikir sedikit (sayangnya saya juga baru bisa berpikir sedikit), kita akan merasakan kenyataan yang disindir oleh Urasawa Naoki. Tidakkah Thracia mirip USA? Sudah berapa kali USA menuduh negara lain mempunyai nuklir? Lebih telak lagi, Persia merupakan salah satu suku di negara-negara Arab, termasuk Iran. Ketika Iran mulai menguat, USA panik dan menuduhnya menyimpan nuklir supaya bisa mengacak-acak Iran—kini USA masih sibuk di Afghanistan, jadi niat itu belum terlaksana (plis deh, dana militer sebanyak itu mending dipake buat nyelametin ekonomi sendiri kan???). Berpuluh-puluh tahun USA mengacak-acak negara-negara Arab tidak hanya demi minyak, tetapi juga demi mempertahankan posisinya sebagai “pemimpin” dunia.

Saya rasa komik ini merupakan peringatan bagi siapa pun, negara apa pun, lembaga apa pun yang berusaha menindas orang lain demi kepentingannya sendiri. Keegoisan (kalau kata “kejahatan” terlalu provokatif) hanya memancing kebencian yang berujung pada bencana, termasuk bencana terhadap diri kita sendiri. Supaya tidak menjadi lingkaran setan, memang kita harus dapat memutus tali kebencian. Akan tetapi, lebih baik lagi jika akarnya—keeogisan yang menyebabkan semua ini terjadi—dihentikan.

No comments:

Post a Comment

Please add your comment here. Thank you ^^

Labels

life (37) hobby (22) movie (21) review (20) GRE (16) poem (12) study (12) work (11) game (8) social (8) translation (7) business (6) dream (6) economy (6) novel (6) music (5) Facebook (3) friendship (3) linguistics (3) manga (3) marketing (3) self-actualization (3) IELTS (2) language (2) money (2) culture (1) gender (1) leadership (1) literature (1) name (1) peace (1)