Wednesday, February 18, 2015

The Novelist: Tidak Ada Pilihan Tanpa Pengorbanan




Pada akhir tahun 2013 terbit dua game indie yang menarik. Dalam hal apa? Bukan gameplay, bukan art, melainkan ceritanya. Di sini Anda sudah bisa menebak judul kedua game itu: The Novelist dan Gone Home. Saya membeli dua-duanya ketika sale, berbulan-bulan sesudah tanggal rilisnya. Bahkan, demi The Novelist saya membuat akun STEAM (dan terjerumus membeli game-game lain).

The Novelist adalah sebuah game yang sekilas mirip dengan Gone Home: kita menjelajahi sebuah rumah untuk mengetahui masalah yang dialami sebuah keluarga. Tapi sesungguhnya kedua game ini mempunyai perbedaan signifikan. Dalam Gone Home, kita berperan sebagai anggota keluarga yang sedang mengeksplorasi rumah. Dalam The Novelist, kita berperan sebagai hantu yang mengawasi keluarga yang tinggal di rumah yang ditungguinya.






Hantu? Benar. Sebuah kehidupan berlangsung di dalam rumah, tapi kita malah berperan sebagai yang tidak hidup. Kita hanya bisa berjalan-jalan di rumah, tapi kita tidak bisa benar-benar berinteraksi dengan benda-benda di rumah. Untunglah kita bisa berpindah dari satu lampu ke lampu lain. Perpindahannya pun dapat dilakukan dengan mulus: kita bisa "melompat" ke lampu mana pun yang bisa dilihat dari posisi kita. Kenapa lampu? Bisa jadi karena lampu menyembunyikan warna aneh yang ditimbulkan hantu.

Keluarga Kaplan terdiri dari seorang novelis yang kesulitan mencari inspirasi, seorang ibu rumah tangga yang ingin menjadi seniman lagi, dan seorang anak SD yang mengalami sedikit ketinggalan di sekolah. Mereka menyewa sebuah rumah untuk menghabiskan liburan musim panas tanpa menyadari kehadiran hantu di situ.

Kita bisa berusaha tidak peduli kepada keluarga Kaplan. Tapi kesedihan dan kekecewaan mereka mengingatkan kita kepada pengalaman kita sendiri. Terlebih, kitalah yang menentukan siapa yang kecewa, siapa yang mendapatkan kesempatan, dan pada akhirnya apa yang harus dikorbankan. Dan kalau kau mengira cerita dalam game ini berkutat di antara keluarga Kaplan saja, kau keliru. Ada banyak peninggalan dari para penghuni sebelumnya. Kalau kita cermati peninggalan-peninggalan itu, mungkin kita bisa menebak identitas si hantu.



Memang tidak ada terobosan teknologi dalam game ini. Tapi kedekatan cerita game ini kepada pengalaman kitalah yang menjadikan pengalaman bermain The Novelist sangat emosional. Selain itu, saya terkesan dengan karakterisasi pasangan Kaplan; selesai bermain game ini, saya merasa mereka adalah teman-teman saya. Sayangnya, bagi saya, repetisi dalam game ini membuat saya enggan memainkannya lebih dari sekali.

1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Please add your comment here. Thank you ^^

Labels

life (37) hobby (22) movie (21) review (20) GRE (16) poem (12) study (12) work (11) game (8) social (8) translation (7) business (6) dream (6) economy (6) novel (6) music (5) Facebook (3) friendship (3) linguistics (3) manga (3) marketing (3) self-actualization (3) IELTS (2) language (2) money (2) culture (1) gender (1) leadership (1) literature (1) name (1) peace (1)