Wednesday, January 8, 2014

Wisata Fantasiyah Episode 3: Museum Sri Baduga

“Real museums are places where Time is transformed into Space.” 

Akhir pekan lalu saya menginap di Bandung. Saya sempat merasakan Car Free Day pada Minggu pagi, tapi sayangnya Braga Culinary Night baru dimulai akhir pekan ini (11 Januari 2014). Karena keluar rumah kesiangan (jam 7), sepeda di shelter sudah habis. Untung saya bisa pinjam dari teman.

Shelter sepeda di dekat ITB

Sepertinya jam 7 itu sedang ramai-ramainya di Car Free Day Bandung. Saya hanya bisa bersepeda lambat agar tidak menabrak anak kecil atau orang lain. Di luar area Car Free Day agak lengang, tapi saya biasa bersepeda di jalur sepeda UI, jadi agak seram juga bercampur dengan mobil dan motor. Ada banyak kuda yang bisa disewa; saya ingin naik tapi malu karena biasanya anak kecil yang naik. xD



Ini jam 9, waktu saya pulang, jadi jalanan sudah sepi.

Puas bersepeda dan makan gado-gado, saya mandi dulu sebelum berangkat mencari buku sekolah untuk adik. Sayangnya, pencarian di Toga Mas dan Rumah Buku tak membuahkan hasil. Penerbitnya memang tidak mendistribusikan buku-bukunya ke kebanyakan toko buku.

Toko buku dengan diskon legendaris; saya tidak berani masuk ke daerah diskon 40%.
Teman saya menawari saya pergi ke banyak museum, tapi saya pilih satu saja dulu untuk kunjungan kali ini. Pilihan saya, Museum Sri Baduga, sangat memuaskan. Memang belum banyak museum yang saya kunjungi, tapi museum ini museum paling bagus di antara lain-lainnya. Koleksinya terbilang lengkap walaupun sebagian besar hanya replika. Konsep pameran dan deskripsi yang menyertai koleksinya sangat membantu pengunjung untuk membayangkan kehidupan di Bandung dan sekitarnya pada masa lalu.

Aslinya ada di salah satu keraton Cirebon
Baru sampai di halaman museum, saya langsung senang karena menemukan Replika Kereta Kencana Paksinagaliman. Kereta ini merupakan motivasi saya ke Cirebon tapi gagal saya lihat gara-gara keratonnya ditutup demi pernikahan pangeran setempat. Lumayanlah saya bisa lihat kereta ini di Bandung walaupun replikanya saja. Saya jadi tahu makhluk di kereta itu campuran setidaknya tiga binatang (naga, gajah, dan burung) dan pengendaranya (sultan) duduk bersila di punggung gajah.

Sarana pemujaan pada zaman batu
Selain kereta kencana, ada juga replika berbagai peninggalan batu di halaman museum. Dari keterangan yang dipasang di dekat objek, kita bisa tahu (perkiraan) kegunaannya pada masa lalu.


Masuk ke Museum Sri Baduga hanya Rp2.500,00 untuk orang dewasa, belum naik menjadi Rp5.000,00 sebagaimana standar tiket museum di Jakarta. Ruang pameran terdepan menyajikan sejarah pembentukan Bandung dan sekitarnya (Jawa Barat) sejak puluhan juta tahun lalu. Saya jadi tahu bahwa tanah Bandung masih baru karena dulu merupakan sebuah danau yang dikeliling gunung-gunung. Berjalan lagi, kita bisa melihat fosil-fosil batu dan tulang binatang. Ada juga koleksi arca, kuburan, dan replika gua.


Sejarah pembentukan tanah Bandung
Fosil-fosil yang ditemukan di Jawa Barat.

Ruang pameran di lantai atas menyimpan koleksi untuk berbagai unsur kehidupan pada masa lalu di Bandung dan sekitarnya: miniatur rumah, tanggungan (pikulan) jajanan, alat penangkap ikan, alat dan hasil kerajinan besi dan emas, pakaian pengantin, mainan, dan lain-lain. Ada juga naskah-naskah kuno; sayangnya, walaupun saya pernah belajar 6 sks tentang naskah kuno Arab Melayu, kebanyakan naskah di sini berbahasa Sunda atau bahasa Jawa Cirebon.


Perabot rumah bangsawan pada zaman kolonial

Diorama pengrajin besi beberapa ratus tahun lalu

Ada satu ruangan yang sayangnya hanya dibuka pada kesempatan tertentu (dan waktu itu sedang ditutup). Dari balik jeruji, saya mengintip ada lukisan-lukisan misterius dan koleksi senjata tajam (yang membuat teman saya sangat penasaran). Mungkin kami berkunjung lagi pada saat ruangan itu dibuka.


Akhir kata, saya puas berkunjung ke Museum Sri Baduga. Terima kasih kepada teman yang menemani saya ke sana. Penerangan yang baik dan tata letak yang lega membuat museum ini patut direkomendasikan untuk kunjungan keluarga. Jalanan di sekitarnya biasa macet pada hari kerja, jadi kunjungan pada akhir pekan lebih dianjurkan. Saya datang pada hari Minggu pun tidak ramai di dalam museum.

Sampai jumpa lagi, Bandung! :D

4 comments:

  1. Uwaaa seru bgttt...saya blm prnh ke bandung...semoga bisa kesana ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin :D
      ayo, mak Hana, mumpung bulan ini ada dua kali long weekend

      Delete
  2. Notes, untuk tempat kunjungan kalo pas lagi ke Bandung. Thank for sharing Mak :)

    Lagi jalan-jalan di blog Mak Melody untuk Srikandi Blogger 2014.
    Good luck ya :)

    ReplyDelete

Please add your comment here. Thank you ^^

Labels

life (37) hobby (22) movie (21) review (20) GRE (16) poem (12) study (12) work (11) game (8) social (8) translation (7) business (6) dream (6) economy (6) novel (6) music (5) Facebook (3) friendship (3) linguistics (3) manga (3) marketing (3) self-actualization (3) IELTS (2) language (2) money (2) culture (1) gender (1) leadership (1) literature (1) name (1) peace (1)